Sudah kenal Naruto Uzumaki? Dia adalah bocah yatim piatu yang di dalam tubuhnya tersegel siluman rubah berekor sembilan hingga membuat warga desa Konoha mengucilkannya. Bagaimana keuletan dan kebesaran hati yang dimiliki secara perlahan-lahan mengantarnya menjadi seorang Ninja yang disegani karena sikap pantang menyerah serta rasa setia kawannya yang sangat tinggi. Tokoh-tokoh keren dalam balutan kostum Ninja a la punk retro plus jalan cerita memikat (walau belakangan ini entah kenapa terkesan ‘dipanjang-panjang’kan) telah membuat manga berjudul Naruto besutan Masashi Kishimoto Sensei ini menjadi favorit para pencinta komik Jepang di seluruh dunia. Bahkan versi anime (film kartun)nya pun laris manis didub dalam berbagai bahasa. Begitu pula pernak-pernik macam boneka figur, kartu bergambar, kaos, gantungan kunci, dan sejenisnya terus diburu dengan antusias oleh para penggemarnya. Bukan hanya Naruto, manga lain seperti Inuyasha,One Piece, Pokemon, Bleach, Eye Shield, Conan, dan sejenisnya juga terbukti mampu merebut perhatian para pecandu komik Jepang di seantero jagat.
Komunitas-komunitas penyuka manga pun bermunculan bak jamur di musim hujan, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan saking kesengsemnya dengan para tokoh dalam komik itu, mereka pun terangsang untuk meniru perilaku dan cara berpakaian figur-figur idola mereka. Hasrat inilah yang kemudian memicu penyelenggaraan ajang cosplay di kampus-kampus perguruan tinggi, khususnya yang memiliki program studi Sastra Jepang. Cosplay (,Kosupure) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata costume (kostum) dan play (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh manga,anime (animasi), dan game. Pelaku cosplay disebut cosplayer.
Tidak terlalu jelas sejak kapan wabah cosplay ini berjangkit di Indonesia. Ada yang memperkirakan Japanese events yang diselenggarakan oleh para mahasiswa Sastra Jepang di berbagai kampus pada tahun 2000 merupakan pembuka masuknya kultur cosplay dan selanjutnya mojang-mojang Bandung membuat gebrakan dengan tampil funky ala Harajuku Street. Mereka ini konon ditengarai sebagai cosplayer generasi pertama yang menginspirasi digelarnya ajang-ajang cosplay sebagai acara utama dan bukan sekedar ‘tempelan’ seperti sebelumnya.
Persiapan menjelang berpartisipasi dalam acara cosplay tidak bisa dilakukan dengan cara dadakan, melainkan jauh-jauh hari sebelumnya. Bagi cosplayer yang berdompet tebal, hal ini bukan merupakan masalah besar. Tinggal bayar pada butik-butik penyedia kostum, rinci deskripsi tokoh serta pernak-pernik kostumnya, dan kostum akan siap pakai sesuai jadwal. Namun lain cerita, kalau mahasiswa yang mengandalkan transfer bulanan dari ortu atau honor kerja paruh waktu ingin berpartisipasi dalam cosplay party. Ada banyak liku ikhtiar yang harus mereka jalani agar bisa tampil tidak malu-maluin di ajang lumayan bergengsi itu.
Pertama-tama mereka harus mempelajari desain kostum tokoh yang ingin diperankan dengan mengamati goresan sang mangaka di komik kesayangan. Selain pakaian, model rambut, sketsa wajah, dan senjata atau pernik lain yang merupakan ciri utama sang tokoh juga harus dicermati dengan seksama. Berikutnya berapa anggaran yang tersedia untuk itu dan selanjutnya adalah waktu demi waktu yang melaju dengan terpompanya hormon adrenalin kian kencang mendekati hari-H. Berburu kain murah di toko grosir, bernego harga plus menyediakan waktu menongkrongi sang penjahit agar desain tidak melenceng dan selesai sesuai jadwal. Lalu dengan mengerahkan segenap kreatifitas dan semangat gotong-royong antar rekan sesama cosplayer; pedang samurai ala Kenshin (Samurai X), gentong pasir senjata Gaara (Naruto), atau garpu tala raksasa ratu kaum Methuselah Seth (Trinity blood) pun terbentuk dengan bahan-bahan seadanya. Jangan lupa,mereka melakukan itu semua di luar jadwal kuliah atau kerja sambilan yang tercatat dalam agenda harian. Pokoknya time is more precious than money! Sehari yang hanya 24 jam itu harus diatur agar cukup untuk semua, termasuk tidur.
Ajang cosplay merupakan semacam wadah untuk saling mengenal satu sama lain sekaligus momen yang pas untuk unjuk kebolehan. Sudah merupakan hal yang lumrah kalau para cosplayer tanpa sungkan saling membandingkan hasil karya mereka, semakin unik akan semakin banyak pula yang mengajak untuk foto-foto bersama bukan hanya antar peserta tapi para penonton yang hadir pun tak mau melewatkan kesempatan mengabadikan momen kebersamaan dengan para tokoh manga/anime favorit yang seolah menjadi ‘hidup’ dalam diri para cosplayer. Meski ada penilaian juri untuk memperebutkan trofi peserta terbaik dalam berbagai kategori, namun kegembiraan karena telah mencapai keinginan untuk tampil prima melalui kerja keras dan cerdas nampaknya lebih memotivasi kepuasan jiwa para cosplayer. Pokoknya ganbatte! Lakukan yang terbaik!
Komunitas-komunitas penyuka manga pun bermunculan bak jamur di musim hujan, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan saking kesengsemnya dengan para tokoh dalam komik itu, mereka pun terangsang untuk meniru perilaku dan cara berpakaian figur-figur idola mereka. Hasrat inilah yang kemudian memicu penyelenggaraan ajang cosplay di kampus-kampus perguruan tinggi, khususnya yang memiliki program studi Sastra Jepang. Cosplay (,Kosupure) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata costume (kostum) dan play (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh manga,anime (animasi), dan game. Pelaku cosplay disebut cosplayer.
Tidak terlalu jelas sejak kapan wabah cosplay ini berjangkit di Indonesia. Ada yang memperkirakan Japanese events yang diselenggarakan oleh para mahasiswa Sastra Jepang di berbagai kampus pada tahun 2000 merupakan pembuka masuknya kultur cosplay dan selanjutnya mojang-mojang Bandung membuat gebrakan dengan tampil funky ala Harajuku Street. Mereka ini konon ditengarai sebagai cosplayer generasi pertama yang menginspirasi digelarnya ajang-ajang cosplay sebagai acara utama dan bukan sekedar ‘tempelan’ seperti sebelumnya.
Persiapan menjelang berpartisipasi dalam acara cosplay tidak bisa dilakukan dengan cara dadakan, melainkan jauh-jauh hari sebelumnya. Bagi cosplayer yang berdompet tebal, hal ini bukan merupakan masalah besar. Tinggal bayar pada butik-butik penyedia kostum, rinci deskripsi tokoh serta pernak-pernik kostumnya, dan kostum akan siap pakai sesuai jadwal. Namun lain cerita, kalau mahasiswa yang mengandalkan transfer bulanan dari ortu atau honor kerja paruh waktu ingin berpartisipasi dalam cosplay party. Ada banyak liku ikhtiar yang harus mereka jalani agar bisa tampil tidak malu-maluin di ajang lumayan bergengsi itu.
Pertama-tama mereka harus mempelajari desain kostum tokoh yang ingin diperankan dengan mengamati goresan sang mangaka di komik kesayangan. Selain pakaian, model rambut, sketsa wajah, dan senjata atau pernik lain yang merupakan ciri utama sang tokoh juga harus dicermati dengan seksama. Berikutnya berapa anggaran yang tersedia untuk itu dan selanjutnya adalah waktu demi waktu yang melaju dengan terpompanya hormon adrenalin kian kencang mendekati hari-H. Berburu kain murah di toko grosir, bernego harga plus menyediakan waktu menongkrongi sang penjahit agar desain tidak melenceng dan selesai sesuai jadwal. Lalu dengan mengerahkan segenap kreatifitas dan semangat gotong-royong antar rekan sesama cosplayer; pedang samurai ala Kenshin (Samurai X), gentong pasir senjata Gaara (Naruto), atau garpu tala raksasa ratu kaum Methuselah Seth (Trinity blood) pun terbentuk dengan bahan-bahan seadanya. Jangan lupa,mereka melakukan itu semua di luar jadwal kuliah atau kerja sambilan yang tercatat dalam agenda harian. Pokoknya time is more precious than money! Sehari yang hanya 24 jam itu harus diatur agar cukup untuk semua, termasuk tidur.
Ajang cosplay merupakan semacam wadah untuk saling mengenal satu sama lain sekaligus momen yang pas untuk unjuk kebolehan. Sudah merupakan hal yang lumrah kalau para cosplayer tanpa sungkan saling membandingkan hasil karya mereka, semakin unik akan semakin banyak pula yang mengajak untuk foto-foto bersama bukan hanya antar peserta tapi para penonton yang hadir pun tak mau melewatkan kesempatan mengabadikan momen kebersamaan dengan para tokoh manga/anime favorit yang seolah menjadi ‘hidup’ dalam diri para cosplayer. Meski ada penilaian juri untuk memperebutkan trofi peserta terbaik dalam berbagai kategori, namun kegembiraan karena telah mencapai keinginan untuk tampil prima melalui kerja keras dan cerdas nampaknya lebih memotivasi kepuasan jiwa para cosplayer. Pokoknya ganbatte! Lakukan yang terbaik!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar